What I want what I lose (part II)
Senin pagi di kediaman Marco Sanders, Semua berjalan seperti biasa. Aku mulai merasa seperti biasa yah, walau mamang masih ada bayang-bayang kak Aldy. Tapi aku akan mencoba untuk terlihat sempurna seolah tidak ada apa-apa di depan teman-teman dan seisi sekolah.
Uncle Marco pun menyarankan agar aku diantar dan dijemput dengannya hari ini. Dan aku pun menerima tawarannya. Setelah menyantap sarapan bersama aku pun pamit dengan aunty Bella.
Jam mennunjukan pukul 06.00 ternyata aku masih terlalu pagi tiba di sekolah. Memang di kelas 2 IPA 2 ini tidak hanya aku yang datang terlalu pagi namun disini sudah ada beberapa teman yang datang untuk bertugas piket dan ada satu yang paling tidak menyukaiku di kelas yaitu Sandi.
Sejak pertama aku maemasuki kelas terasa sekali bahwa sandi memperhatikan ku dengan tatapan yang sinis. Dikelas ini sandi memang terkenal pembuat onar dan terkadang diapun suka melawan guru.
Dia sangat tidak menyukaiku karena pada saat kelas 1 akulah rival terberat dia dalam lomba karya tulis. Dan satu hal yang paling dia benci dariku adalah aku pernah membuatnya menangis pada saat mempresentasikan karya tulis ku di depan kelas entah kata apa yang membuatnya menangis sampai saat ini aku belim tahu persis.
Akan tetapi jika aku tahu apa kata-kata itu aku akan menghapusnya dari karya ku dan tak akan pernah menyebutnya untuk alas an apapun itu.
“ Hoi….Lea !”
Tiba-tiba saja ada teriakan seseorang yang membuyarkan lamunanku. Setelah aku menoleh ternyata suara itu berasal dari Merry.
“ Jiyeeeeehhhh… Pagi-pagi udah ngelamun aja lo! Ngelamunin siapa sih hahaha hayooo ngaku gak sama gue”
“ issss… apa-apan si lo Mer gue ngelamun karna emang ga ada yang bisa gue ajak ngobrol masa gue ngobrol sendiri sama meja hah gak lucu banget kan!”. Jawabku dengan nada meninggi.
“ yah setidaknya kan lo bisa juga kali gak bengong ngapain ke gitu, ikut bantuin anak piket kek,ngerjain PR kek, kan lebih berguna Lea!”.
“ Hah ikutan piket, gue aja piket jarang Mer lo malah nyuruh gue ngebantuin, huh nggak deh makasih mer makasih, hmm.emang ada PR apa? Nggak ada kan..huuuu ngaco lo ah!”
“ hehe iya gue lupa kalo lo tuh males piket, gue aja juga males ngapain juga ya gue nyuruh lo.hahahahahhaha sorry deh mamen! Haha nggak ada sih, maaf ya saya sedikit ngaco pagi ini”.
Huh dasar si Merry kadang-kadang omongannya sulit di mengerti tapi kadang-kadang juga dia bisa di percaya.
Tiba-tiba saja Shifa datang dan menambah ribut suasana.
“ iya iya ayooooooooooo ketauan yang lagi ngomongin gue. Hohohohohohohohooohooooooooooo”. Dengan suara yang lantang dan penuh percaya diri Shifa mengatakan itu.
“ widiiihhhhhh….. Najeeeeeeeeeessssss amit-amit, pagi- pagi gini ngapain ngomongin lo yang ada pamali tau”. Si merry membalas
“ heeeee yooooo songkil abis gaya lo Mer wahhh mau gue joyos lo yaaaa?” balas si Shifa dan mereka terus mengoceh dan saling membalas tanpa henti aku pun hanya bisa terbengong dan menutup telinga.
Hingga akhirnya….
Kkkkrrrrriiiiiiiiiiiiiiinnnnnngggggggggg ………… ! suara bel masuk pun berbunyi.
Shifa dan Merry pun berhenti. Dan mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Tak lama kemudian pak.Tino sudah memasuki ruang kelas mendadak suasana kelas menjadi hening.
Pak Tino adalah guru bahasa Indonesia yang hanya mengajar kelas 2. pak Tino bukanlah guru yang killer namun tidak juga guru yang santai.
“ sekarang keluarkan buku cetak dan catatan, buka buku cetak halaman 59 baca dan pelajari tenteng teater dan bapak akan memberikan sedikit catatan, setelah itu bapak akan bagikan kelompok kelas ! mengerti?”
“ mengeeeertiiii paaaaaaaakkk !” murid-murid menjawab dengan serempak.
Anak-anak pun mulai membaca dengan hikmad. Sebenarnya aku malees untuk membaca bab ini tetapi apa boleh buat karena nantinya akan menjadi tugas kelompok apa boleh buat aku harus membacenya.
……………………………………………………………………………………………..
20 menit pun berlalu kini kembali pak Tino angkat bicara.
“ Cukup anak-anak waktu membaca sudah habis sekarang sambil kalian mencatat catatan di papan tulis, bapak akan menyebutkan kelompok belajar dan anggotanya. Karena murid berjumlah 40 maka bapak bagi menjadi 8 kelompok!”.
Haduuuuh kenapa harus pak Tino sih yang bagi kelompoknya. Haaaaa firasat gue mulai gak enak nih. Bakal sekelompok sama siapa yaaa .
“ kelompok 1 Cecil,Sapta,Rico,Dian,Lisa,
kelompok 2 ………….
kelompok 3 …………
kelompok 4 Dery,Sandi,Leana,Devita,Randi
kelompok 5 …………
masing-masing kelompok membuat karya suatu teater terserah mau jenis apa,
tentukan ketua,sekretaris,dan bendahara kelompok,tugas di kumpulkan dua minggu lagi!, ada pertanyaan?”
aaaaaarrrrrrrrrggggggggghhhhhhhhhhhh ! serasa jantung ku mau copot setelah pak Tino membacakan namaku setelah nama si Sandi. Apa yang harus aku perbuat lagi untuk menghindarinya ohh Tuhaaaaan bantulah aku.
“ anak-anak karna waktu masih tersisa 1 jam pelajaran lagi sekarang buat tempat duduk sesuai dengan kelompok masing-masing dan mulailah berdiskusi!”. Ujar pak Tino.
Ohhhh Tuhan cobaan apalagi yang engkau berikan kepadaku ini.huhuhuhu rasanya aku ingin nagis darah jika harus disatukan dengan Sandi. Yahh apa boleh buatlah aku harus berani menghadapi dia toh dia nggak bakal ngapa-ngapain aku kan.hhhuuuffft.
Dengan perasaan nggak enak aku pun bergegas menuju ke meja yang telah di sediakan untuk kelompok 4. disana sudah ada Sandi,Devita dan Randi. Saat itupun aku merasa seperti anak kambing yang kehilangan induknya sumpah bener-bener nervous dan takut.
Huaaaaa pak Tino aku benciiii sangat dengannya coba saja kelompok ini bukan kau yang menentukannya setidaknya aku masih bisa menarik nafas dengan bebass!.
Sesampainya di meja diskusi jantungku pun mulai berdegup dengan sangat kencangnya. Tak ku sangka kursi yang tersisa hanyalah kursi yang dimana kursi kosong itu terletak di sebelah sosok Sandi..
“ Oh my God !! harus gimana ini aku…” gerutuku didalam hati.
Huffft okay Lea lo harus berani let’s take a step yeeaahh!....okay akhirnya gue udah duduk di sebelah Sandi rasanya kayak ada yang berbeda gitu sih lebih angker gimanaaa gitu. Tapi anehnya dari 5 orang yang duduk dimeja ini, nggak ada satupun yang memulai perbincangan..hhuuuuuuuuffff…… gue lagi gue lagi yang harus memulainya >.< untung gue pinter berbasa basi :P dan akhirnya perbincangan yang tidak masuk akal itu pun terjadi.
“ Hemm..eh temen-temen ada yang punya ide gak buat teater kita?”.
“ aha ! gue punya ide karna ini teater bebas kita bikin teater yang berlatar belakang dari kisah upin ipin dan kawan-kawan..yeahh pada setujukan !” sahut kegilaan si Dery.
“ eh kocak lo mao bikin teater apa operet !” jawab dingin si Sandi.
“ gak ah gak bagus gak ada unsur dramatismenya sama sekali, mending kita buat cerita dari Barbie rapunzel pasti kerenkan ! kelompok kita bakal jadi yang terbaik tuh dari kelas ini !”. jawab lugu si Devita.
“ haduh otak lo semua otak anak-anak ah kenapa kita gak bikin teme kayak film percy Jackson aja !”. sahut gila lagi dari si Randi.
“ hemm. Otak lo pada otak ngejiplak semua mending jiplakannya keren ! huh malah film anak-anaklah yang kalian pengen jiplak, rada bagus sih usul Randi tapi kita tuh jangan ngejiplak gak bakal bagus hasilnya.” Akhirnya aku pun angkat bicara.
“ oh bagus JENIUS, kenapa gak lo aja yang handle ini tugas dan lo buat cerita lo sendiri !” jawab kasar si Sandi.
“ eh selow aja dong lo ! ini tuh tugas kelompok harus ngerjain sama-sama, jangan hanya ngandelin satu orang aja dong !” jawab ku geram.
“ halaaahhh.. gausah ngomong gitu deh lo gue tau lo jago gausah pura-pura gak mampu lah gausah pura-pura bego !” sahut kejam Sandi.
“ Heh ngajakin ribut lo ! ashole ! kurang ajar banget sih lo ngomongnya !” aku membalas.
“ woyy..woyy..woyyy….. ! jangan ribut disini malu sama kelompok laennya tau
!!”. si Randi menengahi.
“ eh Ran bukan gue ya yang mulai duluan. Semua tuh baik-baik aja sebelum itu si ashole mulai bikin gue naik darah!”. Cetusku dengan nada marah.
“ halaah lo nya aja yang gampang naek darah udah kebukti kan lo bule nenek lampir”.
“ wahh bener lo ngajakin gue ribut ya sini lo bediri lo pikir gue takut apa sama lo”. Langsung saja aku berdiri dan membentak Sandi Dengan tangan mengepal.
“ lo pikir gue juga takut apa sama lo ! gue gak pernah takut! Ngerti lo”. Sandi bangkit dan menatapku dengan tajam.
“ eeeehhh ehh ehhh apa-apaan sih lo berdua jangan berantem kan gue bilang malah nyolot-nyolotan kayak gini sih!” Randi pun menengahi.
“ hallahh terserah lo semua gue mau cabut lah daripada gue jadi ikut darah tinggian lama-lama di sini.”
“ gih dah lo lenyap dari sini eneg gue liat lo …issssh !”
Sandi pun pergi meninggalkan bangku diskusi dan kembali ke kursinya. Aku agak sedikit lega karena sebenarnya aku nggak berani melawan dia karna aku orangnya nggak tegaan..
Akhirnya diskusi hari inipun berjalan dengan lancer tanpa gangguan mahluk itu (Sandi)
Dan hasil diskusi hari ini yaitu :
1) Randi sebagai ketua kelompok.
2) Gue yang jadi sekretaris
3) Sandi si gila yang jadi Bendahara (pilihan anak-anak)
4) Ngumpul ngerjain konsepnya mulai hari rabu & jumat minggu ini.
5) Yang gak dating ngumpul di kenain denda Rp.40.000 uangnya di bagi rata buat yang dating diskusi ( usul dari gue)
6) Masing-masing anggota bikin cerita, cerita yang paling menarik bakal jadi cerita buat kelompok dan di kumpulin.
Okeee akhirnya dua jam pelajaran pak Tino udah abis. Dan kini saatnya gue merenungkan gimana caranya gue mau bikin nih cerita. Huuufff pusing.
Gue gak tau mau bikin temanya apa mumet kepala gue….zzzzz
Akhirnyaaaaaaaaaaaaa jam pelajaran telah berakhir kini saatnya untuk pulang. Merry dan Shifapun sudah menungguku di koridor.
“ Lea ayo cepet kita kan mau nemenin Shifa ke Toko kaset di MKG”
“ hah …! Took kaset? Kenapa lo baru bilang sekarang, huh untung aja gue lg gak ada acara. Yaudah yooo capcussss.. hahahahaha”
Sesampainya di toko aku sangat terkejut melihat sosok kak Aldy..
Apakah yang akan terjadi??
tunggu part III nya yaaaa.... :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar